Sanggau – Aksarapost.co.id, Kondisi sarana pendidikan di SDN 03 Sontas, Dusun Sontas, kembali menjadi sorotan publik. Dari total sembilan ruang belajar yang tersedia, sebanyak enam ruang di antaranya mengalami kerusakan berat dengan tingkat kerusakan mencapai sekitar 80 persen, sehingga sudah tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Akibat kondisi tersebut, pihak sekolah terpaksa mengambil langkah darurat. Proses pembelajaran saat ini harus dilaksanakan secara bergantian dengan menumpang di Gedung Serbaguna Desa serta ruang kelas Taman Kanak-Kanak yang ada di wilayah setempat.
Yang menjadi perhatian utama adalah belum terlihat adanya tindak lanjut nyata dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau untuk menangani kerusakan yang telah berlangsung cukup lama. Padahal, struktur bangunan yang rusak berat berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik jika tetap dipaksakan digunakan.
Situasi ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah. Kewajiban menyediakan fasilitas belajar yang aman dan layak tampaknya belum sepenuhnya terpenuhi, khususnya di wilayah pedalaman dan perbatasan. Masyarakat pun mempertanyakan keseriusan dan komitmen dinas terkait dalam menjamin hak pendidikan bagi setiap anak.
“Anak-anak kami harus berpindah tempat dan menumpang untuk belajar. Kalau kondisi ini dibiarkan terus, bagaimana kualitas pendidikan bisa maju? Kami minta Kepala Dinas Pendidikan turun langsung melihat ke lapangan, jangan hanya mengandalkan laporan di atas meja,” ujar salah seorang warga.
Warga juga menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak dapat terus dijadikan alasan, mengingat yang dipertaruhkan adalah keselamatan dan masa depan generasi muda. Rehabilitasi total terhadap enam ruang kelas tersebut dinilai sudah menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar perbaikan ringan. Jika dibiarkan, kondisi bangunan dikhawatirkan akan semakin parah dan menimbulkan risiko yang lebih besar.
Masyarakat Dusun Sontas kini menunggu jawaban dan tindakan nyata dari pimpinan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau. Mereka berharap kehadiran pemerintah tidak hanya terasa saat kegiatan seremonial semata, tetapi juga hadir dalam menyelesaikan masalah mendasar seperti ini.
“Jangan sampai anak-anak di daerah ini merasa terabaikan. Kondisi enam ruang kelas yang rusak parah dan keharusan menumpang belajar adalah bukti nyata adanya masalah serius yang butuh solusi segera,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
( Per )

