Keterangan Foto: Sebuah truk pengisian bahan bakar pesawat sedang berada di samping pesawat Garuda Indonesia di landasan parkir bandara. Lonjakan harga avtur yang menembus Rp29.116 per liter pasca musim haji 2026 akibat ketegangan geopolitik global kini menjadi beban berat bagi maskapai dan penyelenggara perjalanan umroh, hingga memaksa sejumlah biro perjalanan menunda keberangkatan jamaah. Foto: Ilustrasi/Dokumen
PONTIANAK – aksarapost.co.id,, Dunia usaha perjalanan ibadah umroh di Indonesia kembali menghadapi tantangan berat pasca musim haji tahun 2026. Sejumlah biro perjalanan mengeluhkan lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur yang melonjak tajam, yang berdampak langsung pada membengkaknya biaya penerbangan. Kondisi ini bahkan memaksa sejumlah agen travel untuk menunda hingga membatalkan jadwal keberangkatan jamaah yang sudah direncanakan.
Kenaikan harga avtur tersebut dikabarkan telah menembus angka Rp29.116 per liter. Peningkatan drastis ini dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik global serta konflik internasional yang masih berlanjut, yang secara langsung mengganggu rantai pasokan dan stabilitas energi dunia. Akibatnya, maskapai penerbangan melakukan penyesuaian biaya operasional secara signifikan, yang bebannya kemudian berimbas kepada penyelenggara perjalanan ibadah.
Salah satu yang merasakan dampak nyata kesulitan ini adalah Direktur Utama PT. Menara Tanjung Umroh dan Haji Khusus, Sri Wahyuni, S.E. Ia mengungkapkan, lonjakan biaya tiket pesawat membuat pihak pengelola travel sangat kesulitan menjaga kestabilan harga paket umroh yang sebelumnya telah disepakati dan dikontrakkan dengan para jamaah.
“Kenaikan harga avtur ini sangat berdampak besar terhadap seluruh operasional perjalanan umroh kami. Kami sangat memahami kekecewaan para jamaah yang sudah menyiapkan segalanya, namun kondisi geopolitik dan situasi global saat ini membuat biaya penerbangan naik cukup tinggi dan sulit kami prediksi sebelumnya,” ungkap Sri Wahyuni di Pontianak, Selasa (19/5/2026).
Menurut penjelasannya, jadwal keberangkatan yang seharusnya berlangsung pasca musim haji ini terpaksa harus dijadwalkan ulang atau ditunda sementara waktu. Langkah ini diambil sambil menunggu situasi harga tiket dan bahan bakar kembali stabil. Diakui Sri Wahyuni, pelaku usaha perjalanan ibadah saat ini berada di posisi yang sangat sulit; di satu sisi wajib menjaga komitmen dan pelayanan kepada jamaah, namun di sisi lain beban biaya operasional terus meningkat di luar kendali.
“Kami berusaha mencari jalan tengah terbaik agar tidak merugikan jamaah maupun pihak perusahaan. Harapan kami situasi ini segera membaik, sehingga keberangkatan jamaah umroh Indonesia dapat kembali berjalan normal tanpa penundaan yang merugikan semua pihak,” tambahnya.
Kondisi ini pun menjadi sorotan masyarakat dan calon jamaah. Banyak yang berharap pemerintah dapat hadir memberikan solusi nyata dan kebijakan strategis, terutama terkait pengendalian atau stabilitas harga penerbangan internasional, agar perjalanan ibadah masyarakat tidak terlalu terbebani oleh dampak situasi politik dan ekonomi global.
Pengamat ekonomi juga menilai bahwa konflik geopolitik dunia memang memiliki dampak berantai yang sangat besar terhadap industri penerbangan, termasuk sektor perjalanan religi. Selain harga avtur yang melambung, pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan komponen biaya operasional maskapai lainnya turut memberikan tekanan berat terhadap harga akhir paket perjalanan umroh.
Hingga saat ini, para pelaku usaha travel umroh masih terus berkoordinasi dengan pihak maskapai dan menunggu perkembangan situasi pasar energi dunia, demi menentukan langkah terbaik bagi kelanjutan jadwal keberangkatan para jamaah yang telah menanti waktu ibadah ke Tanah Suci.( Tim )
Publis : Per
Redaksi : Aksarapost.co.id

